Fatwa MUI Tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya

FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor:  11 Tahun 2012

Tentang

KEDUDUKAN ANAK HASIL ZINA DAN PERLAKUAN TERHADAPNYA

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), setelah :

MENIMBANG:

a.  bahwa dalam Islam, anak terlahir dalam kondisi suci dan tidak membawa dosa turunan, sekalipun ia terlahir sebagai hasil zina;

b. bahwa dalam realitas di masyarakat, anak hasil zina seringkali terlantar karena laki-laki yang menyebabkan kelahirannya tidak bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, serta seringkali anak dianggap sebagai anak haram dan terdiskriminasi karena dalam akte kelahiran hanya dinisbatkan kepada ibu;

c.  bahwa terhadap masalah tersebut, Mahkamah Konsitusi dengan pertimbangan memberikan perlindungan kepada anak dan memberikan hukuman atas laki-laki yang menyebabkan kelahirannya untuk bertanggung jawab, menetapkan putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang pada intinya  mengatur kedudukan anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya;

d. bahwa terhadap putusan tersebut, muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai kedudukan anak hasil zina, terutama terkait dengan hubungan nasab, waris, dan wali nikah dari anak hasil zina dengan laki-laki yang menyebabkan kelahirannya menurut hukum Islam;

e. bahwa oleh karena itu dipandang perlu menetapkan fatwa tentang kedudukan anak hasil zina dan perlakuan terhadapnya guna dijadikan pedoman.

MENGINGAT:

1.  Firman Allah SWT:

a. Firman Allah yang mengatur nasab, antara lain :

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (QS. Al-Furqan : 54).

b. Firman Allah yang melarang perbuatan zina dan seluruh hal yang mendekatkan ke zina, antara lain:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk “ (QS. Al-Isra : 32).

وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً  يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya, yakni akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina” (QS. Al-Furqan: 68 – 69)

c. Firman Allah yang menjelaskan tentang pentingnya kejelasan nasab dan asal usul kekerabatan, antara lain:

وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءكُمْ أَبْنَاءكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُم بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ  ادْعُوهُمْ ِلأَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ

“Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. (QS. Al-Ahzab: 4 – 5).

وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ

“…. (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu) “ (QS. Al-Nisa: 23).

d. Firman Allah yang menegaskan bahwa seseorang itu tidak memikul dosa orang lain, demikian juga anak hasil zina tidak memikul dosa pezina, sebagaimana firman-Nya:

وَلاَ تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلاَّ عَلَيْهَا وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain526. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan. (QS. Al-An’am : 164)

وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. (QS. Al-Zumar: 7)

2.  Hadis Rasulullah SAW, antara lain:

a. hadis yang menerangkan bahwa anak itu dinasabkan kepada pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy), sementara pezina harus diberi hukuman, antara lain:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ اخْتَصَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ فِي غُلَامٍ فَقَالَ سَعْدٌ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ أَخِي عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابْنُهُ انْظُرْ إِلَى شَبَهِهِ وَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ هَذَا أَخِي يَا رَسُولَ اللَّهِ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي مِنْ وَلِيدَتِهِ فَنَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شَبَهِهِ فَرَأَى شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتْبَةَ فَقَالَ هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ وَاحْتَجِبِي مِنْهُ يَا سَوْدَةُ بِنْتَ زَمْعَةَ قَالَتْ فَلَمْ يَرَ سَوْدَةَ قَطُّ.   رواه البخارى ومسلم

Dari ‘Aisyah ra bahwasanya ia berkata: Sa’d ibn Abi Waqqash dan Abd ibn Zam’ah berebut terhadap seorang anak lantas Sa’d berkata: Wahai Rasulallah, anak ini adalah anak saudara saya ‘Utbah ibn Abi Waqqash dia sampaikan ke saya bahwasanya ia adalah anaknya, lihatlah kemiripannya. ‘Abd ibn Zum’ah juga berkata: “Anak ini saudaraku wahai Rasulullah, ia terlahir dari pemilik kasur (firasy) ayahku dari ibunya. Lantas Rasulullah saw melihat rupa anak tersebut dan beliau melihat keserupaan yang jelas dengan ‘Utbah, lalu Rasul bersabda: “Anak ini saudaramu wahai ‘Abd ibn Zum’ah.  Anak itu adalah bagi pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy) dan bagi pezina adalah (dihukum) batu, dan berhijablah darinya wahai Saudah Binti Zam’ah. Aisyah berkata: ia tidak pernah melihat Saudah sama sekali. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: قام رجل فقال: يا رسول الله، إن فلانًا ابني، عَاهَرْتُ بأمه في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا دعوة في الإسلام، ذهب أمر الجاهلية، الولد للفراش، وللعاهر الحجر. رواه أبو داود

“Dari ‘Amr ibn Syu’aib ra dari ayahnya dari kakeknya ia berkata: seseorang berkata: Ya rasulallah, sesungguhnya si fulan itu anak saya, saya menzinai ibunya ketika masih masa jahiliyyah, rasulullah saw pun bersabda: “tidak ada pengakuan anak dalam Islam, telah lewat urusan di masa jahiliyyah. Anak itu adalah bagi pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy) dan bagi pezina adalah  batu (dihukum)” (HR. Abu Dawud)

b. hadis yang menerangkan bahwa anak hazil zina dinasabkan kepada ibunya, antara lain:

قال النبي صلى الله عليه وسلم في ولد الزنا ” لأهل أمه من كانوا” . رواه أبو داود

Nabi saw bersabda tentang anak hasil zina: “Bagi keluarga ibunya …” (HR. Abu Dawud)

c. hadis yang menerangkan tidak adanya hubungan kewarisan antara anak hasil zina dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya, antara lain:

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” أيما رجل عاهر بحرة أو أمة فالولد ولد زنا ، لا يرث ولا يورث ”  رواه الترمذى سنن الترمذى 1717

“Dari ‘Amr ibn Syu’aib ra dari ayahnya dari kakeknya bahwa rasulullah saw bersabda: Setiap orang yang menzinai perempuan baik merdeka maupun budak, maka anaknya adalah anak hasil zina, tidak mewarisi dan tidak mewariskan“. (HR. Al-Turmudzi)

d. hadis yang menerangkan larangan berzina, antara lain:

عن ‏أبي مرزوق  رَضِيَ اللَّهُ عَنْه قال ‏غزونا مع ‏‏رويفع بن ثابت الأنصاري ‏ ‏قرية من قرى ‏‏المغرب ‏يقال لها ‏ ‏جربة ‏ ‏فقام فينا خطيبا فقال أيها الناس إني لا أقول فيكم إلا ما سمعت رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول قام فينا يوم ‏ ‏حنين ‏ ‏فقال ‏ ‏لا يحل لامرئ يؤمن بالله واليوم الآخر أن يسقي ماءه زرع غيره . أخرجه الإمام أحمد و أبو داود

Dari Abi Marzuq ra ia berkata: Kami bersama  Ruwaifi’ ibn Tsabit berperang di Jarbah, sebuah desa di daerah Maghrib, lantas ia berpidato: “Wahai manusia, saya sampaikan apa yang saya dengar dari rasulullah saw pada saat perang Hunain seraya berliau bersabda: “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya menyirampan air (mani)nya ke tanaman orang lain (berzina)’ (HR Ahmad dan Abu Dawud)

e. hadis yang menerangkan bahwa anak terlahir di dunia itu dalam keadaan fitrah, tanpa dosa, antara lain:

عن ‏أبي هريرة ‏رضي الله عنه قال ‏‏قال النبي ‏صلى الله عليه وسلم ‏كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه  . رواه البخارى ومسلم

Dari Abi Hurairah ra ia berkata: Nabi saw bersabda: “Setiap anak terlahir dalam kondisi fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang yahudi, nasrani, atau majusi. (HR al-Bukhari dan Muslim)

3. Ijma’ Ulama, sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibn Abdil Barr dalam “al-Tamhid” (8/183) apabila ada seseorang berzina dengan perempuan yang memiliki suami, kemudian melahirkan anak, maka anak tidak dinasabkan kepada lelaki yang menzinainya, melainkan kepada suami dari ibunya tersebut, dengan ketentuan ia tidak menafikan anak tersebut.

وأجمعت الأمة على ذلك نقلاً عن نبيها صلى الله عليه وسلم، وجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم كل ولد يولد على فراش لرجل لاحقًا به على كل حال، إلا أن ينفيه بلعان على حكم اللعان

Umat telah ijma’ (bersepakat) tentang hal itu dengan dasar hadis nabi saw, dan rasul saw menetapkan setiap anak yang terlahir dari ibu, dan ada suaminya, dinasabkan kepada ayahnya (suami ibunya), kecuali ia menafikan anak tersebut dengan li’an, maka hukumnya hukum li’an.

Juga disampaikan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Kitab al-Mughni (9/123) sebagai berikut:

وأجمعوا على أنه إذا ولد على فراش رجل فادعاه آخر أنه لا يلحقه

Para Ulama bersepakat (ijma’) atas anak yang lahir dari ibu, dan ada suaminya, kemudian orang lain mengaku (menjadi ayahnya), maka tidak dinasabkan kepadanya.

4.  Atsar Shahabat, Khalifah ‘Umar ibn al-Khattab ra berwasiat untuk senantiasa memperlakukan anak hasil zina dengan baik, sebagaimana ditulis oleh Imam al-Shan’ani dalam “al-Mushannaf” Bab ‘Itq walad al-zina” hadits nomor 13871.

5. Qaidah Sadd al-Dzari’ah, dengan menutup peluang sekecil apapun terjadinya zina serta akibat hukumnya.

6.  Qaidah ushuliyyah :

الأ صل في النهي يقتضي فساد المنهي عنه

“Pada dasarnya, di dalam larangan tentang sesuatu menuntut adanya rusaknya perbuatan yang terlarang tersebut”

لا اجتهاد في مورد النص

“Tidak ada ijtihad di hadapan nash”

7. Qaidah fiqhiyyah :

لِلْوَسَائِلَ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ

“Hukum sarana adalah mengikuti hukum capaian yang akan dituju”

الضَّرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ

“Segala mudharat (bahaya) harus dihindarkan sedapat mungkin”.

الضَّرَرُ لاَ يُزَالُ بِالضَّرَرِ

“Bahaya itu tidak boleh dihilangkan dengan mendatangkan bahaya yang lain.”

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menghindarkan mafsadat didahulukan atas mendatangkan maslahat.

يُتَحَمَّلُ الضَّرَرُ الْخَاصُّ لِدَفْعِ الضَّرَرِ الْعَامِّ

“Dharar yang bersifat khusus harus ditanggung untuk menghindarkan dharar yang bersifat umum (lebih luas).”

إِذَا تَعَارَضَتْ مَفْسَدَتَانِ أَوْ ضَرَرَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا

“Apabila terdapat dua kerusakan atau bahaya yang saling bertentangan, maka kerusakan atau bahaya yang lebih besar dihindari dengan jalan melakukan perbuatan yang resiko bahayanya lebih kecil.”

تَصَرُّفُ اْلإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصَلَحَةِ

“Kebijakan imam (pemerintah) terhadap rakyatnya didasarkan pada kemaslahatan.”

MEMPERHATIKAN :

1. Pendapat Jumhur Madzhab Fikih Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah yang menyatakan bahwa prinsip penetapan nasab adalah karena adanya hubungan pernikahan yang sah. Selain karena pernikahan yang sah, maka tidak ada akibat hukum hubungan nasab, dan dengan demikian anak zina dinasabkan kepada ibunya, tidak dinasabkan pada lelaki yang menzinai, sebagaimana termaktub dalam beberapa kutipan berikut:

a. Ibn Hajar al-‘Asqalani:

نقل عن الشافعي أنه قال: لقوله “الولد للفراش” معنيان: أحدهما
هو له مالم ينفه، فإذا نفاه بما شُرع له كاللعان انتفى عنه، والثاني: إذا تنازع رب الفراش والعاهر فالولد لرب الفراش” ثم قال: “وقوله: “وللعاهر الحجر”، أي: للزاني الخيبة والحرمان، والعَهَر بفتحتين: الزنا، وقيل: يختص بالليل، ومعنى الخيبة هنا: حرمان الولد الذي يدعيه، وجرت عادة العرب أن تقول لمن خاب: له الحجر وبفيه الحجر والتراب، ونحو ذلك، وقيل: المراد بالحجر هنا أنه يرجم. قال النووي: وهو ضعيف، لأن الرجم مختصّ بالمحصن، ولأنه لا يلزم من رجمه نفي الولد، والخبر إنما سيق لنفي الولد، وقال السبكي: والأول أشبه بمساق الحديث، لتعم الخيبة كل زان”

Diriwayatkan dari Imam Syafe’i dua pengertian tentang makna dari hadist “ Anak itu menjadi hak pemillik kasur/suami “ . 

Pertama : Anak menjadi hak pemilik kasur/suami selama ia tidak menafikan/mengingkarinya.  Apabila pemilik kasur/suami menafikan anak tersebut (tidak mengakuinya) dengan prosedur yang diakui keabsahannya dalam syariah, seperti  melakukan Li’an, maka anak tersebut dinyatakan bukan  sebagai anaknya.

Kedua : Apabila bersengketa (terkait kepemilikan anak) antara pemilik kasur/suami dengan laki-laki yang menzinai istri/budak wanitanya, maka anak tersebut menjadi hak pemilik kasur/suami.

Adapun maksud dari “ Bagi Pezina adalah Batu “ bahwa laki-laki pezina itu keterhalangan dan keputus-asaan. Maksud dari kata Al-‘AHAR dengan menggunakan dua fathah (pada huruf ‘ain dan ha’) adalah zina. Ada yang berpendapat bahwa kata tersebut digunakan untuk perzinaan yang dilakukan pada malam hari.

Oleh karenanya, makna dari keptus-asaan disini adalah bahwa laki-laki pezina tersebut tidak mendapatkan hak nasab atas anak yang dilahirkan dari perzinaannya.  Pemilihan kata keputus-asaan di sini sesuai dengan tradisi bangsa arab yang menyatakan “Baginya ada batu” atau : Di mulutnya ada batu” buat orang yang telah berputus asa dari harapan.

Ada yang berpendapat bahwa pengertian dari batu di sini adalah hukuman rajam.  Imam Nawawi menyatakan bahwa pendapat tersebut adalah lemah, karena hukuman rajam hanya diperuntukkan buat pezina yang mukhsan (sudah menikah).  Di sisi yang lain, hadist ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan hokum rajam, tapi dimaksudkan untuk sekedar menafikan hak anak atas pezina tersebut. Oleh karena itu Imam Subki menyatakan bahwa pendapat yang pertama itu lebih sesuai dengan redaksi hadist tersebut, karena dapat menyatakan secara umum bahwa keputus-asaan (dari mendapatkan hak anak) mencakup seluruh kelompok pezina (mukhsan atau bukan mukhsan).

b. Pendapat Imam al-Sayyid al-Bakry dalam kitab “I’anatu al-Thalibin” juz 2 halaman 128 sebagai berikut:

ولد الزنا لا ينسب لأب وإنما ينسب لأمه

Anak zina itu tidak dinasabkan kepada ayah, ia hanya dinasabkan kepada ibunya.

c. Pendapat Imam Ibn Hazm dalam Kitab al-Muhalla juz 10 halaman 323 sebagai berikut :

والولد يلحق بالمرأة إذا زنت و حملت به ولا يلحق بالرجل

Anak itu dinasabkan kepada ibunya jika ibunya berzina dan kemudian mengandungnya, dan tidak dinasabkan kepada lelaki.

2.  Pendapat Imam Ibnu Nujaim dalam  kitab “al-Bahr al-Raiq Syarh Kanz ad-Daqaiq”:

وَيَرِثُ وَلَدُ الزِّنَا وَاللِّعَانِ مِنْ جِهَةِ الأمِّ فَقَطْ  ؛ لأنَّ نَسَبَهُ مِنْ جِهَةِ الأبِ مُنْقَطِعٌ فَلا يَرِثُ بِهِ وَمِنْ جِهَةِ الأمِّ ثَابِتٌ فَيَرِثُ بِهِ أُمَّهُ وَأُخْتَه مِنْ الأمِّ بِالْفَرْضِ لا غَيْرُ وَكَذَا تَرِثُهُ أُمُّهُ وَأُخْتُهُ مِنْ أُمِّهِ فَرْضًا لا غَيْرُ

Anak hasil zina atau li’an hanya mendapatkan hak waris dari pihak ibu saja, karena nasabnya dari pihak bapak telah terputus, maka ia tidak mendapatkan hak waris dari pihak bapak, sementara kejelasan nasabnya hanya melalui pihak ibu, maka ia memiliki hak waris dari pihak ibu, saudara perempuan seibu dengan fardh saja (bagian tertentu), demikian pula dengan ibu dan saudara perempuannya yang seibu, ia mendapatkan bagian fardh (tertentu), tidak dengan jalan lain.

3. Pendapat Imam Ibn ‘Abidin dalam Kitab “Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar” (Hasyiyah Ibn ‘Abidin) sebagai berikut :

ويرث ولد الزنا واللعان بجهة الأم فقط لما قد مناه فى العصبات أنه لا أب لهما

Anak hasil zina atau li’an hanya mendapatkan hak waris dari pihak ibu saja, sebagaimana telah kami jelaskan di bab yang menjelaskan tentang Ashabah, karena anak hasil zina tidaklah memiliki bapak.

4. Pendapat Ibnu Taymiyah dalam kitab “al-Fatawa al-Kubra” :

وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي اسْتِلْحَاقِ وَلَدِ الزِّنَا إذَا لَمْ يَكُنْ فِرَاشًا ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ .كَمَا ثَبَتَ عَنْ النَّبِيِّ { صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَلْحَقَ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ بْنِ الْأَسْوَدِ بْنِ زَمْعَةَ بْنِ الْأَسْوَدِ ، وَكَانَ قَدْ أَحْبَلَهَا عُتْبَةُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ ، فَاخْتَصَمَ فِيهِ سَعْدٌ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ ، فَقَالَ سَعْدٌ : ابْنُ أَخِي .عَهِدَ إلَيَّ أَنَّ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ هَذَا ابْنِي . فَقَالَ عَبْدٌ : أَخِي وَابْنُ وَلِيدَةِ أَبِي ؛ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هُوَ لَك يَا عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ ؛ احْتَجِبِي مِنْهُ يَا سَوْدَةُ } لَمَّا رَأَى مِنْ شَبَهِهِ الْبَيِّنِ بِعُتْبَةَ ، فَجَعَلَهُ أَخَاهَا فِي الْمِيرَاثِ دُونَ الْحُرْمَةِ

Para ulama berbeda pendapat terkait istilkhaq (penisbatan) anak hasil zina apabila si wanita tidak memiki pemilik kasur/suami atau sayyid (bagi budak wanita).  Diriwatkan dalam hadist bahwa Rasulullah SAW menisbatkan anak budak wanita Zam’ah ibn Aswad kepadanya (Zam’ah), padahal yang menghamili budak wanita tersebut adalah Uthbah ibn Abi Waqqosh. Sementara itu, Sa’ad menyatakan :  anak dari budak wanita tersebut adalah anak saudaraku (Uthbah), dan aku (kata sa’ad) ditugaskan untuk merawatnya seperti anakku sendiri”.  Abd ibn Zam’ah membantah dengan berkata : “anak itu adalah saudaraku dan anak dari budak wanita ayahku, ia dilahirkan di atas ranjang ayahku”.  Rasulullah SAW bersabda:  “anak itu menjadi milikmu wahai Abd ibn Zam’ah, anak itu menjadi hak pemilik kasur dan bagi pezina adalah batu”, kemudian Rasulullah bersabda : “Berhijablah engkau wahai Saudah (Saudah binti Zam’ah – Istri Rasulullah SAW)”, karena beliau melihat kemiripan anak tersebut dengan Utbah, maka beliau menjadikan anak tersebut saudara Saudah binti Zam’ah dalam hal hak waris, dan tidak menjadikannya sebagai mahram.

5. Pendapat Dr. Wahbah al-Zuhaili dengan judul “Ahkam al-Aulad al-Natijin ‘an al-Zina” yang disampaikan pada Daurah ke-20 Majma’ Fiqh Islami di Makkah pada 25 – 29 Desember 2010 yang pada intinya menerangkan bahwa, jika ada seseorang laki-laki berzina dengan perempuan yang memiliki suami dan kemudian melahirkan anak, terdapat ijma ulama, sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibn Abdil Barr dalam “al-Tamhid” (8/183) yang menegaskan bahwa anak tersebut tidak dinasabkan kepada lelaki yang menzinainya, melainkan kepada suami dari ibunya tersebut, dengan ketentuan ia tidak menafikan anak tersebut melalui li’an. Sementara, jika ia berzina dengan perempuan yang tidak sedang terikat pernikahan dan melahirkan seorang anak, maka menurut jumhur ulama madzhab delapan, anak tersebut hanya dinasabkan ke ibunya sekalipun ada pengakuan dari laki-laki yang menzinainya. Hal ini karena penasaban anak kepada lelaki yang pezina akan mendorong terbukanya pintu zina, padahal kita diperintahkan untuk menutup pintu yang mengantarkan pada keharaman (sadd al-dzari’ah) dalam rangka menjaga kesucian nasab dari perlikau munkarat.

6. Pendapat, saran, dan masukan yang berkembang dalam Sidang Komisi Fatwa pada Rapat-Rapat Komisi Fatwa pada tanggal 3, 8, dan 10 Maret 2011.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN: FATWA TENTANG ANAK HASIL ZINA DAN PERLAKUAN TERHADAPNYA

Pertama:   Ketentuan Umum

Di dalam fatwa ini yang dimaksud dengan :

  1. Anak hasil zina adalah anak yang lahir sebagai akibat dari hubungan badan di luar pernikahan yang sah menurut ketentuan agama, dan merupakan jarimah (tindak pidana kejahatan).
  2. Hadd adalah jenis hukuman atas tindak pidana yang bentuk dan kadarnya telah ditetapkan oleh nash
  3. Ta’zir adalah jenis hukuman atas tindak pidana yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang menetapkan hukuman).
  4. Wasiat wajibah adalah kebijakan ulil amri (penguasa) yang mengharuskan laki-laki yang mengakibatkan lahirnya anak zina untuk berwasiat memberikan harta kepada anak hasil zina sepeninggalnya.

Kedua:   Ketentuan Hukum

1. Anak hasil zina tidak mempunyai hubungan nasab, wali nikah,  waris, dan nafaqah dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya.

2. Anak hasil zina  hanya mempunyai hubungan nasab, waris, dan nafaqah dengan ibunya dan keluarga ibunya.

3. Anak hasil zina tidak menanggung dosa perzinaan yang dilakukan oleh orang yang mengakibatkan kelahirannya

4. Pezina dikenakan hukuman hadd oleh pihak yang berwenang, untuk kepentingan menjaga keturunan yang sah (hifzh al-nasl).

5. Pemerintah berwenang menjatuhkan hukuman ta’zir lelaki pezina yang mengakibatkan lahirnya anak dengan mewajibkannya untuk:

a. mencukupi kebutuhan hidup anak tersebut;

b. memberikan harta setelah ia meninggal melalui wasiat wajibah.

6. Hukuman sebagaimana dimaksud nomor 5 bertujuan melindungi anak, bukan untuk mensahkan hubungan nasab antara anak tersebut dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya.

Ketiga:    Rekomendasi

1. DPR-RI dan Pemerintah diminta untuk segera menyusun peraturan perundang-undangan yang mengatur:

a. hukuman berat terhadap pelaku perzinaan yang dapat berfungsi sebagai zawajir dan mawani’ (membuat pelaku menjadi jera dan orang yang belum melakukan menjadi takut untuk melakukannya);

b. memasukkan zina sebagai delik umum, bukan delik aduan karena zina merupakan kejahatan yang menodai martabat luhur manusia.

2. Pemerintah wajib mencegah terjadinya perzinaan disertai dengan penegakan hukum yang keras dan tegas.

3. Pemerintah wajib melindungi anak hasil zina dan mencegah terjadinya penelantaran, terutama dengan memberikan hukuman kepada laki-laki yang menyebabkan kelahirannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

4. Pemerintah diminta untuk memberikan kemudahan layanan akte kelahiran kepada anak hasil zina, tetapi tidak menasabkannya kepada lelaki yang menngakibatkan kelahirannya.

5. Pemerintah wajib mengedukasi masyarakat untuk tidak mendiskriminasi anak hasil zina dengan memperlakukannya sebagaimana anak yang lain. Penetapan nasab anak hasil zina kepada ibu dimaksudkan untuk melindungi nasab anak dan ketentuan keagamaan lain yang terkait, bukan sebagai bentuk diskriminasi.

Keempat:    Ketentuan Penutup

  1. Fatwa ini berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di ke  mudian hari ternyata dibutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
  2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

 

Ditetapkan di: Jakarta

Pada tanggal:

18 Rabi’ul Akhir1433 H

10 M a r e t 2012 M

 

MAJELIS ULAMA INDONESIA

KOMISI FATWA

Ketua

 

 

PROF. DR. H. HASANUDDIN AF, MA      

 

 

 

Sekretaris

 

 

 

DR. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA

 

Akad Nikah Wanita Hamil Akibat Zina dan Anaknya

Oleh: Khalim Endri, SE, SHI

A.     Latar Belakang Masalah

Sungguh mengkhawatirkan,masalah hamil di luar nikah kini semakin menggejala di kalangan remaja Indonesia.Hal ini merupakan suatu penyimpangan,baik dalam pandangan ajaran agama maupun aturan yang berlaku di masyarakat

Menurut Drs.H.Fauzie Amnur,penyimpangan – penyimpangan kaidah sosial atau norma-norma agama dalam hal kehamilan di luar nikah ini dikarenakan ketidakmampuan bersangkutan menahan diri sehingga norma apapun akan dilanggarnya.Bila hal ini banyak terjadi di kalangan anak muda,sudah tentu karena mereka hanyut oleh jiwa yang gandrung untuk bertindak dulu berpikir kemudian.[1]

Akibat dari ketidakmampuan menahan diri ini,banyak remaja yang berani melakukan hubungan badan sebelum nikah.Jumlahnya dari tahun ke tahun tampaknya semakin meningkat

Diantara data mengenai hal tersebut adalah dari hasil penelitian Saparinag Sadli dan Zainol Biran pada tahun 1972 yang menemukan bahwa 1,2 – 9,60 % dari responden menyetujui hubungan badan sebelum nikah.Enam tahun kemudian ( 1978 ),pernyataan serupa tercatat sebanyak 10 % dalam penelitian sarliti yang bekerja sama dengan majalah gadis.Tiga tahun berikutnya ,majalah tempo menemukan angka yang setuju dengan itu sebesar 17% .Pada tahun yang sama,hasil penelitian”Gerakan Remaja untuk kependudukan” (GRK) dan Radio Prambos,Jakarta menemukan angka 12% dari pernyataan responden yang tidak hanya menyetujui hubungan badan sebelum Nikah,tetapi juga menyetujui berhubungan badan dengan ganti-ganti pasangan   (Free-sex).[2]

Sementara itu Prof.Dr.Haryono Soedigdinarto,Kepala Poliklinik Kandungan RSU dr.Soetomo,memperoleh data : dari 547 wanita hamil yang mengunjungi poliklinik itu,234 orang ( 44,4%) adalah remaja usia 18-19 tahun,Dari Jumlah itu 164 orang (67,5%) berstatus siswa atau pelajar .Besar kemungkinan ,mereka hamil karena pergaulan bebas .[3]

Kehamilan yang tidak diharapkan ini tentu saja menimbulkan masalah,baik bagi remaja itu sendiri maupun bagi orang tuanya.

Ada beberapa cara yang di tempuh oleh yang bersangkutan untuk menyelesaikan masalah ini,diantaranya upaya pengguguran kandungan.

Menurut pimpinan Klinik Raden Saleh,Dr.Suryono Slamet Imam Santoso,rata-rata dalam sebulan,klinik Raden Saleh di datangi 20-25 orang wanita/gadis yang mengalami kehamilan di luar nikah.Dari jumlah tersebut,rata-rata setiap bulan dilakukan 4 atau 5 kali pengguguran kandungan.[4].Hal ini di lakukan setelah memenuhi persyaratan dan beberapa pertimbangan,baik psikis maupun medis.

Tentang sejauh mana rasa tanggung pihak pria yang menghamilinya atas perbuatannya,menurut Dr.Saryono,lebih dari 50 % menyatakan bertanggung jawab.Bukan saja bersedia mengawini wanita /gadis yang telah dihamilinya,tetapi juga bersedia memikul risiko biaya termasuk biaya yang berhubungan dengan pihak kesehatan[5].

Kesediaan laki-laki untuk menikahi wanita yang telah dihamilinya diluar nikah menimbulkan masalah dalam pandangan Islam karena hal ini berkait dengan masalah iddah bagi wanita yang hamil akibat zina.

B.     PEMBAHASAN

  1. Status Hukum Akad Nikah Wanita Hamil Akibat Zina

Perbedaan pendapat dikalangan para ulama tentang wajib atau tidak wajib atas wanita yang hamil akibat zina,menyebabkan perbedaan pendapat mereka tentang boleh atau tidak boleh menikahi wanita tersebut.

1. Ulama Hanafiyah sependapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya

Alasanya adalah bahwa wanita hamil akibat zina tidak termasuk ke dalam golongan wanita-wanita hamil yang haram dinikahi sebagaimana yang terdapat didalam Ql-Qur’an (Lihat an-Nisaa’:22,23,24).Akan tetapi,bila yang menikahniya bukan laki-laki yang menghamilinya,terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama mazhab ini.

a. Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil dengan laki-laki bukan yang menghamilinya adalah sah,hanya saja wanita itu tidak boleh disetubuhi sebelum melahirkan kandungnya.

b. Abu yusuf dan zafar berpendapat,hukumya tidak sah menikahi wanita hamil akibat zina (dengan laki-laki lain ) karena kehamilanya itu menyebabkan terlarangnya persetubuhan,maka terlarang pula akad nikah dengan wanita hamil itu.Sebagaimana hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil bukan karena zina,tidak sah pula menikahi wanita hamil akibat zina.

2. Ulama Syaf’iyah berpendapat,hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina ,baik yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya maupun bukan yang menghamilinya.

Alasanya,karena wanita hamil akibat zina tidak termasuk golongan wanita yang diharamkan untuk dinikahi.

Mereka juga berpendapat,karena akad nikah yang dilakukan itu hukumnya sah,wanita yang dinikahi tersebut halal ( boleh ) untuk disetubuhi walaupun ia dalam kedaan hamil.

3. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa wanita yang berzina,baik atas dasar suka sama suka maupun karena diperkosa hamil atau tidak hamil,ia wajib istibra’.Bagi wanita merdeka dan tidak hamil ,istibra’-nya tiga kali haid,sedangkan bagi amat ( bukan wanita merdeka ) istibra’-nya cukup satu kali haid,tapi bila ia hamil ,baik merdeka maupun budak,istibra’-nya sampai melahirkan kandunganya.

Dengan demikian,ulama Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil akibat zina,meskipun yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya,apalagi bila ia bukan yang menghamilinya.Bila akad nikah tetap dilangsungkan dalam keadaan hamil (belum istibra’),akad nikah itu fasid dan wajib difasakh.

Pendapat ulama malikiyah ini didasarkan pada hadits Nabi SAW;

“Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir menyiramkanya airnya pada tanaman orang lain.”(HR.Abu Dawud)

4. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita yang diketahui telah berbuat zina,baik dengan laki-laki bukan yang menzinainya terlebih lagi dengan laki-laki yang menzinainya (karena dia tahu pasti bahwa wanita itu telah berbuat zina dengan dirinya ),kecuali wanita itu telah memenuhi dua syarat berikut :

Pertama ,telah habis masa iddahnya,jika ia hamil,iddahnya habis dengan melahirkan kandunganya.Bila akad nikah dilangsungkan dalam keadaan hamil,akad nikah tersebut hukumnya tidak sah

Kedua,telah bertobat dari perbuatan zinanya

” Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (an-Nuur:3)

Ayat ini dipahami oleh ulama mazhab Hanabilah bahwa hukumnya haram menikahi laki-laki atau perempuan pezina kecuali jika mereka telah bertobat.

Di dalam Fiqhus Sunnah didapat keterangan bahwa bila akad nikah dilangsungkan sebelum wanita itu bertobat dan melahirkan kandunganya,pernikahanya fasid dan keduanya harus di ceraikan[6].

4. KHI berpendapat bahwa hukumnya sah menikahi wanita hamil akibat zina bila yang menikahi wanita itu laki-laki yang menghamilinya.Bila yang menikahi bukan laki-laki yang menghamilinya,hukumnya menjadi tidak sah karena pasal 53 ayat 1 KHI tidak memberikan peluang untuk itu.

Secara lengkap ,isi pasal 53 KHI itu adalah sebagai berikut.[7]

  1. Seorang wanita yang hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
  2. Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat 1 dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
  3. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil,tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir

Sebagaimana yang tertuang pada pasal 53 ayat 1,KHI membatasi pernikahan wanita hamil hanya dengan pria yang menghamilinya,tidak memeberi peluang kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya.Karena itu,kawin darurat yang selama ini masih terjadi di Indonesia ,yaitu kawin dengan sembarang laki-laki yang dilakukannya hanya untuk menutupi malu (karena sudah terlanjur hamil), oleh KHI dihukumi tidak sah untuk dilakukan.

Pendapat KHI ini mirip dengan pendapat Abu Yusuf dan Zafar dari mazhab Hanafiyah.Keduanya berpendapat bahwa wanita hamil akibat zina dapat dinikahkan kepada laki-laki yang menghamilinya,tapi tidak kepada laki-laki lain bukan yang menghamilinya.

Yang menjadi masalah dari pendapat ini adalah bila seorang wanita berbuat zina dengan lebih dari satu orang laki-laki,kemudian ia hamil bagaimana menentukan”pria yang menghamilinya”itu?

Didalam pengelompokan hukum Islam,zina termasuk kedalam kelompok jinayah (tindak criminal),satu kelompok dengan pencurian,perampokan, dan pembunuhan

Dalam hal pembunuhan,bila seorang terbukti telah melakukan pembunuhan dengan sengaja dan diluar kewenangan,kepadanya diberlakukan hukum qishash.

Yang menjadi masalah adalah bila seorang di bunuh oleh lebih dari satu orang pelaku.Para ulama empat mazhab sependapat bahwa bila ketiga orang itu terlibat langsung,ketiganya harus diqishash berikut.[8]

Dengan mengambil contoh pada masalah pembunuhan,dalam hal zina,bila seorang wanita berzina dengan tiga orang pria,kemudian ia hamil,ketiga pria itu harus bertanggung jawab atas wanita yang dizinainya.Karenanya,dengan pria manapun (diantara tiga pria itu) wanita hamil itu dinikahkan,dapat dikatakan bahwa wanita hamil itu dinikahkan kepada pria yang menghamilinya.

2. STATUS HUKUM ANAK YANG DIHAMILKAN SEBELUM AKAD

Sebagaimana telah dikemukakan,tujuan disyariatkannya nikah adalah agar terpelihara keturunan atau nasab ,sebagaimana yang telah difirmankan oleh Alloh SWT didalam Al-Qur’an Surah an-nahl ayat 72

Pengertian nasab adalah pertalian kekeluargaan berdasarkan hubungan darah melalui akad perkawinan yang sah.[9]

Dari pengertian tersebut,untuk dapat menghubungkan nasab seorang anak kepada ayahnya,dibutuhkan dua syarat : hubungan darah dan akad perkawinan yang sah.Bila hanya terdapat satu syarat,baik hubungan darah saja maupun akad perkawinan yang sah saja,nasab tidak bisa dihubungkan diantara keduannya.

Para ulama mazhab sependapat bahwa dalam hal perkawinan yang sah ,bila seorang perempuan melahirkan anak,anak itu bisa dihubungkan nasabnya kepada suaminya

Akan tetapi untuk dapat menghubungkan nasab anak kepada ayahnya,terdapat beberapa syarat yang harus di penuhi,diantaranya: anak tersebut dilahirkan setelah berlalunya waktu enam bulan sejak terjadinya akad nikah ( menurut Hanafiyah ) atau enam bulan sejak terjadinya persetubuhan suami istri  ( menurut mayoritas ulama mazhab ).Bila anak lahir kurang dri enam bulan dari waktu akad  atau dari persetubuhan suami istri,anak itu tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami wanita yang melahirkannya itu .Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa kehamilan telah terjadi sebelum perkawinan ,kecuali jika suami mengakui pula bahwa dirinyalah yang menghamili wanita itu sebelum ia menikah.

Dalam hal pernikahan wanita hamil akibat zina ,sebelum berbicara masalah penentuan nasab,terlebih dahulu kita kembali kepada pendapat para ulama tentang status hukum akad nikahin wanita hamil akibat zina itu

  1. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah,baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain ( dalam hal dengan laki-laki lain Abu yusuf dan Za’far berpendapat tidak sah ). Karena perkawinanya sah,bila anak lahir setelah berlaku waktu enam bulan sejak terjadinya akad nikah ,anak itu bisa dihubungkan nasabnya kepada suami dari ibunya ,tapi bila lahir kurang dari enam bulan dari waktu akad,tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suami ibunya itu kecuali jika suami itu mengakuinya
  2. Ulama Safi’yah berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah ,baik dengan laki-laki yang menghamilinya maupun dengan laki-laki lain.Dengan demikian ,bila anak lahir setelah berlaku enam bulan sejak persetubuhan suami istri,anak itu dinasabkan kepada suami dari ibunya tapi bila anak lahir kurang dari enam bulan,tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada suaminya dari ibunya itu kecuali bila suami mengakuinya.
  3. Ulama Malikiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa hukum pernikahan wanita hamil akibat zina adalah tidak sah.Karena itu,tidak ada hubungan nasab antara anak yang dilahirkan dan laki-laki yang menikahi ibunya itu karena hukum akad nikah sendiri tidak sah
  4. KHI berpendapat bahwa hukum akad nikah wanita hamil akibat zina adalah sah bila yang menikahniya laki-laki yang menghamilinya,tapi bila laki-laki lain bukan yang menghamilinya akad nikah tersebut menjadi tidak sah.Dengan demikian ,hubungan nasab antara anak dan ayahnya hanya apabila yang menikahi ibunya itu dalah laki-laki yang menghamilinya.Bila yang menikahinya bukan laki-laki yang menghamilinya ,hubungan nasab menjadi tidak ada karena akad nikahnya sendiri hukumnya tidak sah.

Hal ini sebagaimana tertuang dalam KHI pasal 99 tentang kedudukan anak bahwa  anak yang sah adalah .[10]

  1. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah
  2. Hasil pembuahan suami istri yang sah diluar rahim dan dilahirkan oleh istri terebut.

Pasal 99 Point @ menyatakan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah,sedangkan pasal 53 ayat 1 menyatakan bahwa sahnya perkawinan wanita hamil hanya bila dilakukan dengan pria yang menghamilinya.Dengan demikian hubungan nasab antara anak dan ayahnya hanya ada bila yang menikahi wanita itu laki-laki yang menghamilinya.

Berbeda dengan pendapat para ulama mazhab,KHI tidak menjadikan tenggang waktu enam bulan sebagi dasar untuk mengkaitkan hubungan nasab seorang anak kepada ayahnya.Hal ini didasarkan keoada dua alasan berikut:

Pertama,tenggang waktu enam bulan ( yang dijadikan dasar oleh para ulama mazhab penentu hubungan nasab ) itu bukan berdasarkan dalil yang qathi,baik Al-Qur’an maupun Hadits,tapi hanya merupakan pemahaman para ulama mazhab terhadap dua ayat dalam Al-qur’an,yaitu surat al-Ahqaaf ayat 15 dan surat Luqman ayat 14 (lihat”minimal Masa Kehamilan”Subbab”Hamil,Iddah dan Istibra”).

KHI memahami kedua ayat ini tidak untuk menjadikan sebagai dasar dalam penentuan nasab,tapi hanya merupakan dasar dalam hal penentuan batas minimal masa kehamilan.

Maksudnya,dengan dua ayat tersebut Alloh SWT menjelaskan bahwa seorang perempuan (dalam hal mengandung anak ) membutuhkan waktu minimal enam bulan sejak terbentuknya nutfah sampai ia melahirkan.

Pemahaman ini sejalan dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa janin yang berbeda di dalam rahim ibu setelah berusia empat bulan dilengkapi dengan roh dan dalam masa dua bulan berikutnya disempurnakan khilqah(bentuk)nya.Dengan demikian,seandainya ia lahir dalam umur enam bulan ia sudah sempurna walaupun mungkin kurang sehat adalah .[11]

Dalam hal akad nikah wanita hamil akibat zina,status hukum diberikan kepada wanita yang hamil itu,tidak pada kehamilanya karena anak dalam kandungan tidak diberi hukum tersendiri,karenanya status hukum yang ditetapkan terhadap wanita hamil berlaku pula terhadap anak yang ada dalam kandunganya.

Yang menjadi masalah,sahkah akad nikah wanita hamil itu? KHI berpendapat hukumnya sah bila yang menikahinya laki-laki yang menghamilinya.Dengan demikian ,karena status hokum akad nikahnya sah,wanita hamil itu sah menjadi istrinya,termasuk anak yang dalam kandungan wanita itu sah pula menjadi anaknya,kapan saja akad nikah dilangsungkan asalkan sebelum anak dilahirkan.

Dari beberapa pendapat para ulama sebagaimana yang telah dikemukakan,terlihat bahwa dalam masalah terpeliharanya  keturunan,yang lebih memungkinkan untuk dicapai adalah menurut pendapat KHI.Meskipun tidak memberikan tenggang waktu antara akad nikah kelahiran anak,namun karena KHI membatasi bahwa yang boleh menikahi wanita hamil itu hanya laki-laki yang menghamilinya,masalah terpeliharanya keturunan menjadi lebih mungkin untuk bisa dicapai.Adapun pendapat ulama mazhab hanafiyah dan Syafi’iyah,walaupun mereka memberikan tenggang waktu antara akad dan kelahiran anak,namun karena  memberikan kesempatan kepada laki-laki bukan yang menghamili untuk menikahi wanita hamil tersebut,kemungkinan terpeliharanya keturunan menjadi lebih kecil untuk bisa dicapai,sebab sekalipun diberikan tenggang waktu enam bulan,tapi karena masa kehamilan itu umumnya itu Sembilan bulan ,ada kemungkinan wanita yang sudah hamil dua bulan dinikahi oleh laki-laki lain ,akhirnya anaknya dinasabkan kepada laki-laki yang menikahi ibunya itu sedangkan diantara keduanya tidak ada hubungan darah.

C.     KESIMPULAN

Dari seluruh bahasan yang telah di uraikan mengenai status hukum akad nikah wanita hamil dan kedudukan anaknya,dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Wanita hamil akibat zina tidak wajib iddah karena tidak memiliki ikatan hukum dengan laki-laki manapun,termasuk dengan laki-laki yang menghamilinya.
  2. Hukum akad nikah yang dilangsungkan  pada saat  wanita hamil akibat zina adalah sah bila yang menikahinya  adalah laki-laki yang menghamilinya karena tidak terdapat dalil yang qath’i yang melarang laki-laki menikahi wanita tersebut .Dengan demikian,karena status akad nikahnya sah,status anak yang dilahirkan setelah akad nikah tersebut menjadi anak yang sah pula
  3. Pendapat KHI mengenai kawin hamil dan kedudukan anak lebih layak  untuk diikuti dibandingkan dengan pendapat para ulama yang lain.Ini karena didalam pendapat KHI,disamping terdapat keselarasaan dan ketersambungan antara peristiwa hukum,hubungan hukum ,dan akibat hukum,juga masalah terpeliharanya keturunan lebih memungkinkan untuk bisa dicapai.

D.     SARAN

  1. Meskipun para ulama membolehkan wanita hamil akibat zina dinikahkan,bukan berarti hal ini boleh dijadikan suatu kebiasaan.Zina adalah perbuatan tercela yang secara tegas dilarang oleh ajaran Islam,karena itu,upaya penyadaraan masyarakat,khususnya terhadap para remaja ,dalam hal ini pengamalan ajaran agama harus terus ditingkatkan.
  2. Perhatian orang tua terhadap pergaulan anak hendaknya lebih ditingkatkan karena terjerumusnya anak remaja kedalam perbuatan zina acapkali karena pengaruh pergaulan.
  3. Perlu adanya tindakan yang tegas dari pada aparat penegak hukum terhadap pihak-pihak  yang dengan sengaja menyebarkan pornografi,baik melalui media cetak maupun elektronik,karena hal tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung,berpengaruh terhadap mental masyarakat
  4. Dalam rangka mencegah masyarakat dari perbuatan zina,pemerintah hendaknya menetapkan suatu hukuman yang tegas terhadap para pelakunya.Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat merasa takut untuk melakukan perbuatan tersebut dan menjadi jera bila mengalaminya.

Dengan demikian,terciptanya suatu masyarakat yang bermoral diharapkan bisa terwujud

 

 DAFTAR PUSTAKA

Amnur,H.Fauzie,Dr..”Hidup  Bersama Tanpa Nikah dan Hamil di Luar Nikah.Nasihat Perkawinan dan Keluarga,XVI,195,September 1988

Bisri, Moh Adib. Terjemah Al-Faraidul Bahiyyah Risalah Qawaidul Fiqh. Rembang:  Menara Kudus. 1977.

Depag RI, Ilmu Piqih II. Jakarta: Dirjen Bimbingan Islam. 1984.

Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama.1991/1992.Kompilasi Hukum Islam di Indonesia,Jakarta.

Djazuli,H.A.,Prof.,Drs..2000.Fiqh Jinayah.Cet.III.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada

Humaedillah,Memed. Akad Nikah Wanita Hamil dan Anaknya, Cet.1. Jakarta: Gema Insani Press. 2002

Laporan Utama”Masalah Hamil Sebelum Nikah dan Perwalianya”,Nasihat perkawinan dan keluarga.XVI,195,September 1988

Rahman Ghazaly, Abd. Fiqih Munakahat. Jakarta: Prenada Media. 2003.

Ramulyo, Mohd Idris. Hukum Perkawinan Islam. Jakarta. Bumi Aksara, 1996.

Ridwan,Kafrawi et al.(ed.).1999.Ensiklopedi Islam.Jilid  IV.Jakarta:PT Ichtiar Baru Van Hoeve.

Sabiq,Sayyid.1983.Fiqih Sunnah.Jilid II.Beirut:Darul-Fikr

Sulaiman bin al-Asy’asy bin Ishaq, Abu Dawud. Sunan Abi Dawud, Juz 1. Bairut: Daral-Fikr. 1994.


[1] Drs.H.Fauzie Amnur, “Hidup Bersama Tanpa Nikah dan Hamil diluar Nikah”.Nasihat Perkawinan dan Keluarga,BP4 Pusat,September hal. 56.

[2] Laporan Utama,”Masalah Hamil Sebelum Nikah dan perwaliaanya”.Nasihat Perkawinan dan Keluarga,BP4 Pusat,September 1988 hal 7.

[3] Ibid., hal 8

[4] Ibid., hal 10.

[5] Ibid., hal 15.

[6] Sayyid sabiq,op.cit., hal 87.

[7] Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama,Kompilasi Hukum Islam di Indonesia , (Jakarta, 1991/1992), hal 34.

[8] H.A.Djazuli,Fiqh Jinayah , (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada,2000),Cet.III hal 138.

[9] Kafrawi Ridwan,et al (ed),op.cit.,, hal.13.

[10] Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama,op.cit.,hal 56.

[11] Fatchur Rahman,Ilmu Waris.(Bandung:PT Alma’arif,1975) Cet IV,hal.202.

KUA Diwajibkan Menerapkan Layanan Online Administrasi Nikah (e-Nikah)

Jakarta, bimasislam– Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan KUA dalam pencatatan nikah dan rujuk, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah akan mewajibkan kepada seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) untuk menerapkan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) sebagai sarana pendukung pencatatan data nikah. Demikian dikatakan oleh Direktur URAIS dan Pembinaan Syariah, Dr. Muchtar Ali, MA di Jakarta (28/3).

SIMKAH adalah aplikasi pencatatan nikah berbasis teknologi informasi yang saat ini telah dipergunakan oleh sebagaian KUA Kecamatan dalam pengelolaan data nikah dan rujuk. Kedepan, sambungnya, pengembangan aplikasi pencatatan data ini akan diintegrasikan dengan penggunaan e-nikah pada KUA yang ditargetkan terealisir pada seluruh kecamatan pada tahun 2014.

Dalam keempatan terpisah, Kasubdit Pemberdayaan KUA, Yayat Supriyadi, M. Si menanggapinya bahwa untuk menerapkan kebijakan tersebut, pihaknya terus berupaya melakukan berbagai terobosan. ”Kebijakan ini sudah tidak dapat dihindari lagi, apalagi UKP4 telah menjadikan layanan online sebagai salah satu standar kualitas layanan pemerintah”, terangnya. Oleh karena itu, sambungya, kewajiban KUA menggunakan media online menjadi kenicayaan sejarah dimana aplikasi SIMKAH yang selama ini dikembangkan akan terintegrasikan ke sistem e-Nikah.

Lebih lanjut dikatakan, langkah penting yang sedang disiapkan adalah instruksi Dirjen Bimas Islam yang mewajibkan kepala Kanwil Kemenag seluruh Indonesia untuk mendukung penerapan aplikasi SIMKAH pada seluruh KUA, ujarnya.

Untuk mendukung kebijakan ini, tambahnya, aplikasi yang sudah dipergunakan oleh lebih dari seribu KUA ini akan dijadikan salah satu indikator penilaian KUA teladan pada tahun 2013. Hal tersebut dilakukan dalam rangka mengacu kepada penilaian publik yang dilaksanakan oleh Kemenpan dan Reformasi dan Birokrasi yang menjadikan penerapan IT sebagai salah satu indikator penilaian layanan publik, tutupnya. (yats)

Sumber: bimasislam.kemenag.go.id

Menteri Agama Setuju Nikah Gratis

Kementerian Agama berencana untuk menghilangkan biaya nikah di Kantor Urusan Agama agar tidak terjadi pemberian gratifikasi kepada penghulu.

“Mengenai konsep biaya nikah yang paling ‘update’ tadi saya rapat dengan Pak menteri, sudah mencapai konsep final mengenai biaya nikah, sehingga nanti gratifikasi untuk penghulu sudah tidak ada lagi,” kata Inspektur Jenderal Kementerian Agama, M Jasin saat ditemui di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi Jakarta, Selasa (5/3).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 tahun 2004 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak, biaya pencatatan nikah di KUA adalah Rp30 ribu.

“Biaya nikah Rp30 ribu sesuai dengan PP 47/2004, pak menteri setuju dihapuskan, jadi ini adalah ‘good will’ dari pemerintah untuk masyarakat, sehingga bila diberlakukan maka amplop-amplop tanda terima kasih itu dilarang,” tambah mantan pimpinan KPK tersebut.

Menurut dia, pihak yang diuntungkan dari kebijakan tersebut adalah penghulu dan kepala KUA.

“Dari kebijakan tersebut yang diuntungkan adalah penghulu dan kepala KUA sehingga yang dia terima menjadi sah apa adanya, bukan penerimaan yang tidak sah karena KPK sejak 2007 menilai pemasukan lain masuk ke dalam gratifikasi,” jelas Jassin.

Nantinya, menurut Jassin akan ada empat kategori konsep biaya nikah.

“Kategori a, b, c dan d, empat kategori itu didasarkan pada jumlah peristiwa per masing-masing wilayah KUA, jadi tunjangan (penghulu) didasarkan atas perhitungan itu, tunjangan transportasi lokal kisarannya Rp110 ribu ditambah tunjangan profesi,” tambah Jassin.

Artinya menurut Jassin tidak ada alasan untuk penghulu meminta tambahan uang kepada masyarakat.

“Sehingga tidak ada alasan untuk meminta tambahan karena ini ‘cukup’ lah, ditambah dana operasional yang dulunya Rp2 juta usulannya ditambah lagi menjadi Rp5 juta,” jelas Jassin.

Sebelumnya, Kementerian Agama tidak menyediakan biaya tambahan bagi penghulu.

Pada 2010, Badan penelitian dan pengembangan Kementerian Agama Jakarta pernah melakukan penelitian terkait biaya nikah, hasilnya biaya rata-rata yang dibayarkan masyarakat ke KUA adalah Rp150 ribu sampai Rp1 juta atau jauh lebih tinggi dibanding biaya yang ditetapkan pemerintah. (Ant)

Sumber: tvOneNews

Irjen: Penghulu Diminta Tidak Terima Uang

Jakarta (Pinmas)—Irjen Kementerian Agama (Kemenag) M Jasin meminta para penghulu nikah di DKI Jakarta tidak menerima uang dari mereka yang sedang melangsungkan pernikahan. Sebab sesuai aturan perundang-undangan penerimaan uang tersebut merupakan katagori suap.

Itu disampaikan Jasin saat memberikan pembekalan kepada 44 kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan 192 penghulu se-wilayah DKI, di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) DKI Jakarta, Rabu (27/2). Hadir pada acara itu, Kepala Kanwil Kemenag DKI Akhmad Murtadho dan para pejabat lainnya.

Jasin yang mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini menyatakan, setiap penerimaan oleh penyelenggara negara atau pegawai negeri dianggap suap apabila berhubungan dengan jabatannya dan bertentangan dengan tugas dan kewajibannya.

“Jadi saya minta mereka agar berhati-hati dalam menjalankan tugasnya dan sambil menunggu konsep biaya nikah yang sedang dibahas diharapkan agar tidak menerima uang dari mereka yang sedang melangsungkan pernikahan. Namun kalau mereka makan dan minum di tempat pernikahan tidak masalah, asal jangan menerima uang saja,” papar Jasin.

Ia menjelaskan Itjen Kemenag sekarang ini sedang mencari jalan keluar dengan cakupan wilayah secara nasional dan mempertimbangkan kondisi geografis, di mana nantinya para penghulu akan dibiayai negara yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dikatakan Jasin, Kemenag akan membahas masalah konsep aturan tentang para penghulu yang akan dibiayai APBN. “Kita akan bertemu dengan Komisi VIII DPR bersama KPK untuk membahas perundang-undangan. Jadi sambil menunggu aturannya para penghulu untuk tidak boleh menerima uang,” papar Jasin.

Kemarin, Jasin melakukan safari pembekalan kepada para KUA dan penghulu, setelah di DKI dilanjutkan pembekalannya kepada para KUA dan penghulu se-Jawa Barat. (johara).

Analisa Hukum Islam tentang Maskawin dan Adat Pemberian dalam Perkawinan

Oleh Umar Abidin, SHI

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Permasalahan

Perkawinan merupakan suatu kontrak sosial antar seorang laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama tanpa dibatasi oleh waktu tertentu. Dalam Islam, pemberian maskawin merupakan kewajiban yang harus dibayar oleh seorang laki-laki yang menyatakan kesediaannya untuk menjadi suami dari seorang perempuan.

Pada kenyataannya, terutama pada kalangan masyarakat awam sebagian masih banyak yang belum mengerti hakikat dari pemberian maskawin. Diantara mereka beranggapan maskawin atau mahar hanyalah pelengkap sebuah ritual akad nikah semata, kendati mereka menganggap hal ini wajib atau harus diadakan.

Oleh karena itu tak sedikit orang membedakan antara maskawin atau mahar dengan adat bawaan (gawan[1], istilah Jawa). Jika maskawin diberikan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan yang akan dinikahinya, maka gawan juga diberikan sebagaimana halnya maskawin, tetapi sudah menjadi kebiasaan atau tradisi bahwa gawan itu diberikan kepada calon isteri biasanya berupa perhiasan emas (kalung, cincin, gelang dll) yang bisa diminta kembali atau selayaknya ia yakini harus dikembalikan kepada laki-laki yang akan atau telah menikahinya jika dikemudian hari terpaksa harus batal menikah atau bercerai.

Sebagai kebiasaan yang perlu dikritisi, di kalangan masyarakat menjadikan barang yang aneh atau unik sebagaimana cendera mata atau sekedar kenang-kenangan bahkan tidak boleh dimanfaatkan biasa dijadikan sebagai maskawin, padahal nilainya tak seberapa jika dibandingkan dengan kemampuan orang tersebut untuk memberikan sesuatu kepada perempuan yang akan dinikahinya. Seperti sejumlah uang sebesar angka kelahiran mereka, dihias dan ditata sedemikian rupa, uang kuno yang sudah tak ada nilainya dan seperangkat alat shalat juga menjadi kebiasaan yang hanya sekedar meniru kebanyakan orang. Padahal untuk gawan saja, ia lebih besar dari itu, misalnya perhiasan emas 10 gram. Hal ini tidak sesuai dengan maksud dan tujuan disyari’atkannya maskawin dalam perkawinan.

Hal inilah yang harus diluruskan untuk lebih bisa menjadikan arti sebuah perkawinan yang bertanggungjawab bisa tercapai, jadi bukan sekedar kontrak sosial tanpa makna, karena hakikat perkawinan adalah untuk bisa hidup bersama sebagai satu kesatuan yang utuh, yang didalamnya harus saling melengkapi, saling memberi dan menerima. Maskawin dalam hal ini adalah pemberian awal sebagi bentuk kesungguhan atau tanggungjawab seorang laki-laki kepada isterinya.

Dengan adanya tradisi atau adat pemberian yang sudah berkembang di dalam masyarakat tersebut, terdapat pertanyaan bagaimana kedudukan adat pemberian dalam perkawinan ditinjau dari hukum Islam terkait dengan disyari’atkannya maskawin? Dalam bab-bab berikut akan kami uraikan hal-hal yang berkaitan dengan mahar atau maskawin agar pemahaman tentang maskawin tidak sesempit atau hanya sekedar menjadi pelengkap dalam ritual perkawinan.

 B.     Tujuan Penulisan

Sesuai dengan latar belakang permasalahan diatas, tujuan dari tulisan ini adalah untuk menjelaskan bagaimana kedudukan adat pemberian dalam perkawinan yang berkembang di masyarakat menurut hukum Islam terkait dengan disyariatkannya maskawin. Dengan adanya pemahaman masyarakat secara jelas terhadap kedudukan maskawin dalam perkawinan, maka diharapkan persoalan maskawin bisa menjadi lebih mendapat perhatian yang semestinya, bukan hanya sekadar menjadi pelengkap perkawinan belaka.

 

BAB II

KONSEPSI HUKUM ISLAM TENTANG MASKAWIN

A.    Pengertian Maskawin

Maskawin atau mahar adalah pemberian pihak pengantin laki-laki (misal emas, barang, kitab suci) kepada pengantin perempuan pada waktu akad nikah, dapat diberikan secara kontan ataupun secara hutang.[2] Mahar merupakan sesuatu yang pantas diterima oleh seorang wanita, karena mahar itu sebagai hadiah yang ikhlas. Sedangkan hadiah dapat mengukuhkan dan menguatkan kasih sayang dan rasa cinta.[3]

Dalam Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa pengertian mahar adalah “pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam”.[4]

Di dalam Al-Quran istilah maskawin disebut dengan al-sadaq, al-saduqah, al-nihlah, al-ajr  dan al-faridah. Disebut dengan mahar yang secara bahasa berarti pandai, mahir, karena dengan menikah dan membayar maskawin, pada hakikatnya laki-laki tersebut sudah pandai dan mahir, baik dalam urusan rumah tangga ataupun dalam membagi waktu, uang dan perhatian. Disebut shadaq yang secara bahasa berarti jujur, lantaran dengan membayar maskawin mengisyaratkan kejujuran dan kesungguhan si laki-laki untuk menikahi wanita tersebut. Disebut dengan faridhah yang secara bahasa berarti kewajiban, karena maskawin merupakan kewajiban seorang laki-laki yang hendak menikahi seorang perempuan. Dan dikatakan dengan istilah ajran yang secara bahasa berarti upah, lantaran dengan maskawin sebagai upah atau ongkos untuk dapat menggauli isterinya secara halal.[5]

Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa maskawin atau mahar adalah suatu pemberian wajib dari seorang mempelai pria kepada mempelai perempuan baik berupa barang, uang atau jasa menurut kerelaan dan kesepakatan kedua pihak sebagai pengganti dalam sebuah pernikahan dan sebagai bentuk kesungguhan untuk menjalani kehidupan rumah tangga diantara keduanya.

B.     Hukum Memberikan Maskawin

Calon mempelai pria wajib membayar maskawin atau mahar kepada calon mempelai perempuan dalam jumlah, bentuk dan jenis sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.[6] Bahkan para ahli fiqh sependapat bahwa maskawin itu termasuk syarat sahnya nikah, dan tidak boleh diadakan persetujuan untuk meniadakannya[7], baik maskawin itu disebutkan atau tidak disebutkan pada waktu akad nikah. Jika maskawin tidak disebutkan pada waktu akad nikah, maka suami harus membayar mahar mitsil, yaitu maskawin yang diterima oleh perempuan sesuai dengan jumlah, jenis dan bentuk sebagaimana maskawin yang diterima oleh perempuan lain yang sepadan dengannya.

Adapun dasar dari wajibnya maskawin adalah firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa ayat 4 :

(#qè?#uäur uä!$|¡ÏiY9$# £`ÍkÉJ»s%߉|¹ \’s#øtÏU 4 bÎ*sù tû÷ùÏÛ öNä3s9 `tã &äóÓx« çm÷ZÏiB $T¡øÿtR çnqè=ä3sù $\«ÿ‹ÏZyd $\«ÿƒÍ£D . )النسآء : ٤).

Artinya: “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Q.S.  An-Nisa: 4).[8]

dan Surat An-Nisa ayat 25 :

£`èdqßsÅ3R$$sù ÈbøŒÎ*Î/ £`ÎgÎ=÷dr&  Æèdqè?#uäur £`èdu‘qã_é& Å$rá÷èyJø9$$Î/  )النسآء : ٢٥).

Artinya: “karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut.” (Q.S. An-Nisa: 25).[9]

Karena penting dan wajibnya maskawin dalam pernikahan, maka jika seorang laki-laki hendak menikahi seorang perempuan betapapun miskinnya laki-laki tersebut, ia tetap wajib memberikan maskawin, dan jika ternyata benar-benar tidak punya apa-apa, kemampuan atau jasa yang dimiliki oleh seorang laki-laki boleh dijadikan sebagai maskawin. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا لِي فِي النِّسَاءِ مِنْ حَاجَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ زَوِّجْنِيهَا قَالَ أَعْطِهَا ثَوْبًا قَالَ لَا أَجِدُ قَالَ أَعْطِهَا وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَاعْتَلَّ لَهُ فَقَالَ مَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ[10]. )رواه البخارى).

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Amru bin ‘Aun telah menceritakan kepada kami Hammad dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa’d ia berkata: Seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata bahwasanya, ia telah menyerahkan dirinya untuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau bersabda: Aku tidak berhasrat terhadap wanita itu. Tiba-tiba seorang laki-laki berkata: “Nikahkanlah aku dengannya”. Beliau bersabda: “Berikanlah mahar (berupa) pakaian padanya”. Laki-laki itu berkata: “Aku tidak punya”. Beliau pun bersabda kembali: “Berikanlah meskipun hanya berupa cincin besi. Ternyata ia pun tak punya. Kemudian beliau bertanya: “Apakah kamu memiliki hafalan Al Qur`an?” Laki-laki itu menjawab: “ Ya, surat ini dan ini”. Maka beliau bersabda: “Aku telah menikahkanmu dengan wanita itu, dengan mahar hafalan Al Qur`anmu.” (H.R. Al-Bukhari).

C.    Bentuk-bentuk Maskawin

Adapun sesuatu yang dapat dijadikan sebagai maskawin adalah sebagai berikut:

  1. Sesuatu yang dapat dimiliki dan dapat dijadikan pengganti (bisa berfungsi sebagai nilai tukar) dengan syarat halal, suci, dapat dimanfaatkan dan dapat diserahkan.[11]

Hal ini didasarkan kepada ayat berikut ini:

 ¨@Ïmé&ur Nä3s9 $¨B uä!#u‘ur öNà6Ï9ºsŒ br& (#qäótFö6s? Nä3Ï9ºuqøBr’Î/ tûüÏYÅÁøt’C uŽöxî šúüÅsÏÿ»|¡ãB 4 )النسآء : ٢٤).

Artinya: “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina”. (Q.S. An-Nisa: 24). [12]

Kata amwal dalam ayat di atas dipahami oleh para ulama sebagai maskawin, mahar.

  1. Pekerjaan yang dapat diupahkan.

Menurut Imam Malik, Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya membolehkan jasa mengajarkan Al-Qur’an sebagai maskawin.[13] Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT  sebagai berikut:

tA$s% þ’ÎoTÎ) ߉ƒÍ‘é& ÷br& y7ysÅ3Ré& “y‰÷nÎ) ¢ÓtLuZö/$# Èû÷ütG»yd #’n?tã br& ’ÎTtã_ù’s? zÓÍ_»yJrO 8kyfÏm ( ÷bÎ*sù |MôJyJø?r& #\ô±tã ô`ÏJsù x8ωZÏã ( !$tBur ߉ƒÍ‘é& ÷br& ¨,ä©r& šø‹n=tã 4  .  (القصص: ٢٧).

Artinya: “Berkatalah Dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun, maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu.” (Q.S. Al-Qashash: 27).[14]

Ayat ini menerangkan ketika Nabi Musa menikahi salah seorang gadis laki-laki tua (dalam satu riwayat dikatakan laki-laki tua itu adalah Nabi Syuaib), dengan maskawin bekerja untuk laki-laki tua itu (calon mertuanya) selama delapan tahun.

Adapun dasar dari hadits tentang bolehnya jasa atau kerja dijadikan sebagai maskawin adalah sebagaimana hadits riwayat Imam Al-Bukhari diatas. Akan tetapi Imam Malik memakruhkan upah atau jasa sebagai maskawin, sedangkan Imam Hanafi melarang kawin dengan upah kecuali hamba sahaya.[15]

  1. Membebaskan budak.

Sebagian para ulama membolehkan pembebasan budak sebagai maskawin, yang didasarkan oleh sebuah hadits dikatakan bahwa Rasulullah SAW menikahi Shafiyyah dengan maskawin membebaskannya dari budak belian menjadi seorang yang merdeka dan dalam hadits tersebut tidak ada keterangan bahwa hal itu khusus untuk Rasulullah SAW. Karena tidak ada keterangan kekhususan itulah, maka ia berarti berlaku dan diperbolehkan juga untuk seluruh ummatnya. Hadits dimaksud adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَبَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَفِيَّةَ فَأَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَقَالَ ثَابِتٌ لِأَنَسٍ مَا أَصْدَقَهَا قَالَ أَصْدَقَهَا نَفْسَهَا فَأَعْتَقَهَا[16]. (رواه البخارى).

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abdul ‘Aziz bin Shuhaib ia berkata: “Aku mendengar Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menawan Shafiyyah lalu membebaskannya kemudian menikahinya. Tsabit bertanya kepada Anas: “Apa maharnya?” Anas menjawab: “Maharnya adalah dirinya”, lalu beliau memerdekakannya.” (H.R. Al-Bukhari)

Sedangkan bagi yang menolak mengatakan bahwa maskawin dengan membebaskan budak itu hanya dikhususkan bagi Rasulullah SAW saja dan tidak yang lainnya.

4. Masuk Islam.

Keislaman seseorang dapat dijadikan sebagai maskawin dalam perkawinan, kendati ada perbedaan pendapat dari para ulama. Sebagaimana hadits dari Anas tentang masuk Islamnya Abu Thalhah yang menikahi Ummu Sulaim yang dikutip oleh Sayyid Sabiq dalam kitabnya, Fiqh Sunnah. Disebutkan bahwa Ummu Sulaim berkata: “Demi Allah…, orang seperti Anda tak patut ditolak lamarannya…, tetapi Anda orang kafir sedangkan saya orang Islam. Saya tidak halal dengan Anda. Jika Anda mau masuk Islam itu jadi maharnya. Dan saya tidak meminta kepada Anda sesuatu yang lain.” Maka jadilah keislaman Abu Thalhah itu sebagai maskawinnya.[17]

D.    Kadar Maskawin yang harus diberikan

Pada dasarnya, Islam tidak menetapkan jumlah minimal dan jumlah maksimal seseorang memberikan maskawin, tidak ada batasan yang harus ditentukan. Karena adanya perbedaan kaya dan miskin, lapang dan sempitnya rizki masing-masing orang berbeda. Selain itu setiap masyarakat mempunyai adat dan tradisinya sendiri.

Karena itu masalah jenis dan jumlah mahar diserahkan kepada kemampuan, keadaan dan tradisi mereka. Jadi boleh memberi maskawin dengan uang, cincin besi, mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan sebagainya yang penting adanya kesepakatan dari kedua belah pihak yang melakukan aqad nikah.[18]

Dalil yang dijadikan dasar tidak ada batas minimal dalam maskawin ini adalah keumuman ayat “dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina” (QS. An-Nisa: 24) sebagaimana tersebut diatas.

Kata amwal yang artinya “harta” dalam ayat di atas mencakup harta yang sedikit juga harta yang banyak, tidak disebutkan berapa batasan minimal dan maksimal maskawin, karena itulah, maka boleh dengan berapa saja selama ada keridlaan dari si calon isteri.

Dalam hadits riwayat Al-Bukhari sebagaimana telah disebutkan diatas: “berikanlah meskipun hanya berupa cincin besi”, disini tegas bahwa mahar boleh dengan apa saja selama ia berupa harta sekalipun berupa cincin besi.

Namun demikian, dalam memahami persoalan kadar banyak-sediktitnya maskawin, para ulama terjadi perbedaan pendapat tentang batasan besaran maskawin. Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan fuqaha Madinah dari kalangan Tabi’in berpendapat tidak ada batasan maskawin, segala sesuatu yang menjadi harga bagi sesuatu yang lain dapat dijadikan maskawin. Sedangkan Malik dan Abu Hanifah memberikan batas minimal maskawin, yaitu tiga dirham menurut riwayat yang terkenal dari Malik dan sepuluh dirham menurut Abu Hanifah. Demikian disebutkan dalam Bidayatul Mujtahid.[19]

E.     Maskawin Penuh dan Maskawin Setengahnya

Seorang isteri menerima maskawin penuh dalam keadaan sebagai berikut:

  1. Apabila benar-benar sudah disenggamai

Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT sebagai berikut:

÷bÎ)ur ãN›?Šu‘r& tA#y‰ö7ÏGó™$# 8l÷ry— šc%x6¨B 8l÷ry— óOçF÷s?#uäur £`ßg1y‰÷nÎ) #Y‘$sÜZÏ% Ÿxsù (#rä‹è{ù’s? çm÷ZÏB $º«ø‹x© 4.  (النسآء : ٢٠).

Artinya: “Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun.” (Q.S. An-Nisa: 20).[20]

Dan firman-Nya:

y#ø‹x.ur ¼çmtRrä‹è{ù’s? ô‰s%ur 4Ó|Óøùr& öNà6àÒ÷èt/ 4’n<Î) <Ù÷èt/ šcõ‹yzr&ur Nà6ZÏB $¸)»sV‹ÏiB $Zà‹Î=xî .  (النسآء : ٢١).

Artinya: “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (Q.S. An-Nisa: 21).[21]

Para ulama sebagimana disebutkan Ibnu Rusyd,[22] sependapat bahwa melunasi maskawin penuh menjadi wajib dengan terjadinya persenggamaan (dukhul) antara suami isteri.

  1. Apabila seorang dari suami-isteri meninggal dunia sebelum bersenggama

Ketentuan ini sudah menjadi ijma’ ulama, bahwa maskawin yang telah dijanjikan wajib dibayarkan bila suami-isteri sudah tinggal menyendiri dalam pengertian yang sebenarnya, berada di suatu tempat yang aman dari penglihatan orang lain dan tak ada halangan hukum untuk melakukan persetubuhan, seperti salah seorang sedang puasa wajib atau sedang haid. Atau halangan karena emosi seperti salah seorang menderita sakit sehingga tidak bisa melakukan persenggamaan yang wajar, atau karena adanya halangan yang bersifat alamiah seperti ada orang ketiga disamping mereka.[23]

Seorang isteri hanya berhak menerima maskawin separuh dari jumlah yang telah dijanjikan apabila ia diceraikan oleh suaminya sebelum terjadi persenggamaan diantara mereka berdua, sebagimana firman Allah SWT :

bÎ)ur £`èdqßJçFø)¯=sÛ `ÏB È@ö6s% br& £`èdq¡yJs? ô‰s%ur óOçFôÊtsù £`çlm; ZpŸÒƒÌsù ß#óÁÏYsù $tB ÷LäêôÊtsù  .(البقرة: ٢٣٧)

Artinya: “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu.” (Q.S. Al-Baqarah: 237).[24]

BAB III

ANALISA TENTANG ADAT PEMBERIAN DALAM PEKAWINAN MENURUT HUKUM ISLAM

Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat, khususnya di Jawa Tengah sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan bahwa istilah gawan atau bawaan atau pemberian dari seorang laki-laki kepada calon istrinya merupakan hal yang banyak dilakukan sebagai sebuah keharusan. Gawan, dalam prakteknya biasanya jenis dan kadarnya tidak sama, bergantung pada tingkat sosial dan ekonomi para pihak yang berkepentingan. Gawan biasanya dalam bentuk perhiasan emas. Selain gawan, dari keluarga calon mempelai laki-laki  juga membawa barang-barang bawaan keperluan resepsi berupa uang, makanan, peralatan dapur dan kebutuhan pakaian calon isteri yang dalam istilah bahasa Jawa adalah mbesan atau serah-serahan.

Hal ini baik mbesan maupun gawan, yang kedua-duanya merupakan pemberian  dari pihak keluarga putra (calon suami), sudah maklum diketahui oleh kedua belah pihak keluarga masing-masing, menjadi semacam etika untuk  memulai pembentukan rumah tangga baru. Dan dari keluarga calon istri juga biasanya sudah menghitung “untung rugi” untuk mengadakan resepsi pernikahan dengan harapan akan mendapatkan sesuatu sebagai bantuan (istilah Jawa, serah-serahan). Dari calon istri sendiri biasanya juga sudah diberikan pengertian dari orang tua maupun famili dekatnya bahwa ia akan segera menerima gawan dan serah-serahan tersebut, walaupun ia belum tahu apa saja dan berapa yang akan ia terima.

Sehingga jika hal ini tidak dilakukan oleh seorang calon suami dan keluarganya, dalam arti suami tidak mempersiapkan pemberian sebagai gawan maupun serah-serahan atau mbesan dari keluarganya, pihak keluarga calon suami biasanya akan menjadi bahan gunjingan di masyarakat.

Sebagai contoh kerabat penulis dari daerah yang berbeda dan mempunyai tradisi perkawinan yang berbeda (Jawa Timur) juga sempat mengalami “kecele”, karena sebagai keluarga calon istri, yang sudah “mengharap” sesuatu dari calon pengantin pria-nya yang dari Jawa Timur, ternyata dugaan itu salah, bahwa di daerah calon pengantin pria tidak berlaku adat gawan atau mbesan sebagaimana penulis kemukakan di atas.

Tradisi pemberian dalam perkawinan ini bukannya jelek ataupun bertentangan dengan tujuan perkawinan yang ingin membentuk keluarga yang tentram, sakinah, mawaddah wa rahmah, yang menjadikan pasangan suami istri melakukan hak dan tanggungjawabnya. Bahkan tradisi ini menemukan pijakannya sebagai etika sosial untuk memulai menjalani rumah tangga yang baru yang harus berhati hati dan penuh tanggungjawab bagi masing-masing pasangan untuk samksimal mungkin mengabdikan dirinya dalam “surga” rumah tangga.

Hanya saja yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah masalah pemberian sebagai mahar, apakah gawan sebagaimana yang penulis terangkan diatas bisa disamakan dengan mahar? Bagaimana kedudukan adat pemberian berupa gawan ini ditinjau dari hokum syari’at Islam? Ternyata tidak sepenuhnya bisa, tetapi esensi pemberian itu adalah sama, yaitu sama-sama pemberian dari calon suami kepada calon istri agar menjadi miliknya yang tidak dapat diambil kembali. Kalau dalam istilah gawan, sang suami atau keluarganya atau kedua belah pihak  punya pengertian yang lebih jauh untuk waktu yang akan datang sebagai semacam jaminan, bahwa gawan suatu saat ‘harus’ dikembalikan (baik separo maupun seutuhnya) kepada sang mantan suami  manakala suami-istri itu berpisah atau bercerai. Sehingga hal ini yang menjadikan perbedaan atau pemisahan antara pemberian maskawin (mahar) dan pemberian gawan. Sudah menjadi tradisi kalau maskawin diberikan hanyalah sekedar sedikit benda berharga atau uang, yang jumlahnya jauh lebih sedikit disbanding dengan gawan. Jika calon suami memberi maskawin sudah tahu tidak dapat diambil kembali, akan tetapi kalau gawan seberapapun besarnya ia punya harapan untuk kembali sebagaimana jaminan yang dititipkan kepada istri jika suatu saat kelak perkaiwan tak dapat bertahan dan berakhir dengan perceraian.

Pemahaman inilah yang perlu dikritisi, bahwa ternyata etika gawan tidak murni sebagai pemberian. Kesan bahwa gawan sebagai semacam jaminan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali merupakan suatu hal yang patut mendapat pertimbangan untuk mencoba diluruskan. Akan lebih baik jika pemberian yang dimaksudkan sebagai gawan dijadikan (diikhlaskan) sebagai maskawin yang permanen, yang menjadi hak penuh istri.

Memperhatikan dua ayat diatas (Q.S. An-Nisa: 4 dan Q.S. An-Nisa: 24) yang mewajibkan pemberian maskawin bagi laki-laki kepada perempuan pilihannya sebagai pemberian penuh kerelaan tanpa tendensi dan pamrih. Kemudian jika perempuan tersebut memberikan sebagian maskawin itu setelah ia miliki tanpa paksaan sedikit pun atau pun merasa malu dan tertipu maka terima dan ambillah itu sebagai anugerah bukan dianggap sebagai suatu hal yang menyedihkan atau suatu kesalahan. [25]

Jika hal ini dikaitkan dengan adat pemberian berupa gawan atau apapun bentuknya, kemudian kita gabungkan keduanya (maskawin dan gawan) agar mencapai titik temu, maka dapat dikatakan bahwa maskawin merupakan pemberian yang wajib dikarenakan halalnya hubungan suami-istri, diberikan secara suka rela. Sedangkan gawan diberikan oleh calon laki-laki kepada perempuan yangakan dijadikan sebagai isterinya namun dengan persyaratan tertentu, yang berarti pemberian itu tidak murni dan tidak mutlak sebuah pemberian, dengan kata lain tanpa kerelaan penuh. Oleh karena itu kedua pemberian tersebut sangat berbeda baik dari sisi hukum memberikannya maupun akibatnya.

Nilai yang agung dari makna ayat di atas terkait dengan maskawin adalah memberikan kelapangan kepada wanita jika ia mau memberikan atau mempersilahkan untuk ikut menikmati lagi kepada suaminya, maka hal ini menggambarkan tatanan rumah tangga yang tingkat kerjasamanya dan eratnya hubungan mereka sangat baik.  Sehingga jika dalam gawan, sang suami mengharapkan kembali jika ia bercerai atau tidak jadi menikah, tetapi Islam justru memulainya ketika mereka tinggal bersama sebagai suami-istri. Sang suami boleh memakan atau menerima kembali atas kerelaan istri tanpa ada citra yang kurang baik. Nilai yang ‘agung’ disini adalah ketika suami memberikan maskawin dengan keikhlasan penuh tanpa berharap kembali, tetapi disaat yang sama ia masih ada kesempatan baginya menikmati harta (maskawin) itu jika istrinya menyerahkan lagi sebagiannya, maka suamai pun boleh untuk menerimanya dan menikmatinya.

Kemudian terkait dengan kewajiban setengah mahar yang harus diserahkan dikarenakan terjadi perceraian sebelum dukhul ( Q.S. Al-Baqarah: 237) maka hal ini sebagai ‘harga’ yang sangat mulia sebuah “persenggamaan”, dimana seorang perempuan hanya mendapatkan setengah dari maskawin yang telah ia janjikan jika belum “disentuh”. Dari pemahaman ini diperoleh rasa keadilan antara laki-laki dan perempuan tersebut, dari sisi perempuan itu berarti penghormatan akan “persetubuhan”, dan dari sisi laki-laki tersebut terasa tidak memberatkan karena terjadinya talak sehingga ia hanya memberikan setengah dari maskawin yang ia rencanakan.

Hal ini berbeda dengan gawan yang memang dari awal mulai merencanakan sebuah perkawinan sudah ada semacam ‘akad tersembunyi’ dimana gawan diserahkan memang tidak murni pemberian, tetapi ia diberikan dengan syarat tertentu berseberangan dengan etika Islam yaitu adanya azas kerelaan dan nilai ibadah.

Dengan penjelasan tersebut, menurut penulis, pemahaman maskawin yang sesuai dengan tujuan syari’at Islam (maqashi al-syar’i) perlu disosialisasikan kepada masyarakat secara umum agar tradisi atau adat pemberian beupa gawan yang sudah berkembang di sebagian masyarakat segera diubah pengertiannya, sehingga tidak ada tendensi dan kepentingan tertentu dalam pemberian terkait suatu perkawinan.


BAB IV

P E N U T U P

A. Kesimpulan

Adat yang berkembang pada sebagian mayarakat tentang pemberian dalam perkawinan berupa gawan merupakan pemberian calon suami kepada calon isteri, dengan harapan jika suatu saat ternyata perkawinan batal atau terjadi perceraian, pemberian semacam ini diambil kembali. Sedangkan maskawin atau mahar adalah pemberian wajib dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan disebabkan karena adanya hubungan pernikahan. Oleh karenanya maskawin yang telah diterima menjadi hak penuh bagi perempuan tersebut dan tidak boleh diminta kembali oleh laki-laki calon suami/suaminya, kecuali atas kerelaan isteri jika ia memberikan kepada suaminya, maka suami boleh memanfaatkan pemberian tersebut.

Dari kedua macam pemberian tersebut perlu adanya pengubahan pola pikir, karena sebagian masyarakat masih memandang maskawin hanya sebagai pelengkap saja, terbukti masih kurangnya perhatian terhadap maskawin itu disyari’atkan, sehingga pemberian maskawin lebih sedikit daripada gawan atau adat pemberian yang sudah berkembang itu.

Dengan pemahaman yang cukup terhadap hakikat, makna, dan tujuan dari disyari’atkannya maskawin, masyarakat akan dengan sendirinya “memadukan” maskawin dengan gawan, atau bahkan menghilangkan sama sekali adat pemberian berupa gawan yang sifat dan karakternya tidak sesuai dengan syari’at maskawin sekaligus memberikan perhatian yang besar terhadap maskawin.

  1. E.     Saran-saran
    1. Bagi masyarakat Islam hendaknya lebih memperluas pemahaman mengenai hakikat ajaran Islam tentang pemberian maskawin agar permasalahan maskawin didudukan sebagaimana mestinya.
    2. Bagi laki-laki yang akan menikah, hendaknya memberikan maskawin sesuai ketentuan agama menurut kemampuannya dan tidak memisahkan antara maskawin dan gawan dengan cara meleburkan keduanya untuk dijadikan sebagai maskawin saja.
    3. Bagi tokoh masyarakat, para ulama, muballigh, penghulu, penyuluh dan petugas terkait yang lebih memahami tentang hukum munakahat, diharapkan untuk bisa mensosialisasikan atau mendakwahkan kepada masyarakat agar dapat mengamalkan hukum munakahat secara benar sehingga memberikan nilai positif dan lebih adil bagi keberlangsungan, kebahagiaan dan ketentraman rumah tangga.***

 

DAFTAR PUSTAKA

 Al-Bukhari, Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shohih Al-Bukhari (Juz  III), Darul Kitab Al-Islamy, Beirut t.th.

Asy-Syafi’i,  Muhammad bin Abdurrahman,  Rohmatul Ummah fi Ikhtilafil A’immah, terj. Drs. Sarmin Syukur dan Dra. Luluk Rodliyah, Al-Ikhlas, Surabaya, 1993.

Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Analisa Fiqih para Mujtahid, terj. Drs. Imam Ghazali Said, MA dan Drs. Achmad Zaidun, Pustaka Amani, Jakarta, 2002.

Kisyik, Abdul Hamid, Bimbingan Islam untuk Mencapai Keluarga Sakinah, terj. Ida Nursida, Al-Bayan PT Mizan Pustaka, Bandung, Cet. IX, 2005.

Kompilasi Hukum Islam,  Pustaka Widyatama, Yogyakarta, 2004.

Sayyid Sabiq, Fiqhussunnah,  terj. Drs. Mohammad Thalib,  PT. Al-Ma’arif, Bandung, Cet. XVI, t.th.

Soenarjo, R.H.A., Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta, Edisi Revisi 1994.

Sumber Internet:

http://www.indonesianschool.org/dialog/Mahar.pdf (diakses 05 September 2011).

http://www.kamusbesar.com (diakses 05 September 2011).

End Note:


[1] Istilah gawan biasa dipergunakan dalam masyarakat Jawa terhadap barang bawaan berupa perhiasan emas dari seorang laki-laki yang akan menikahi seorang perempuan dan sudah menjadi maklum diantara mereka bahwa gawan itu menjadi hak calon isteri, namun jika perkawinan batal dilaksanakan atau terjadi perceraian diantara mereka, gawan segera dikembalikan kepada calon suami tersebut. Oleh karena itu bagi mereka yang masih memegang teguh prinsip seperti ini, biasanya gawan diberikan jauh lebih besar daripada maskawin. Gawan juga berbeda dengan pemberian sebagai “tanda pengikat” pra pernikahan yang biasanya berupa perhiasan emas namun dalam kadar sedikit, dalam istilah Jawa biasa disebut dengan peningset. Jika peningset diberikan saat lamaran atau tunangan (khitbah), maka gawan diberikan saat mbesan (menyerahkan uang dan barang-barang keperluan resepsi pernikahan) sehari atau dua hari menjelang akad nikah.

[2] http://www.kamusbesar.com (diakses 05 September 2011).

[3] Abdul Hamid Kisyik, Bimbingan Islam untuk Mencapai Keluarga Sakinah, terj. Ida Nursida, Al-Bayan PT Mizan Pustaka, Bandung, Cet. IX, 2005, hal. 124.

[4] Kompilasi Hukum Islam, Pustaka Widyatama, Yogyakarta, 2004, hal. 9-10.

[6] Kompilasi Hukum Islam, Op. Cit., hal. 21.

[7] Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Analisa Fiqih para Mujtahid, terj. Drs. Imam Ghazali Said, MA dan Drs. Achmad Zaidun, Pustaka Amani, Jakarta, 2002, hal. 432.

[8] Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H., Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta, Edisi Revisi 1994, hal. 115.

[9] Ibid., hal. 121.

[10] Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari (selanjutnya disebut Al-Bukhari), Shohih Al-Bukhari, Darul Kitab Al-Islamy, Beirut (t.th) Juz  III, hal. 232.

[11] Ibnu Rusyd, Op.Cit., hal. 438.

[12] Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H., Op.Cit., hal. 121.

[13] Muhammad bin Abdurrahman Asy-Syafi’i,  Rohmatul Ummah fi Ikhtilafil A’immah, terj. Drs. Sarmin Syukur dan Dra. Luluk Rodliyah, Al-Ikhlas, Surabaya, 1993, hal. 370.

[14] Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H., Op.Cit., hal. 613.

[15] Ibnu Rusyd, Loc. Cit., hal. 438.

[16] Al-Bukhari, Op.Cit., hal. 49

[17] Sayyid Sabiq, Fiqhussunnah,  terj. Drs. Mohammad Thalib,  PT. Al-Ma’arif, Bandung, Cet. XVI, t.th, hal. 58.

[18] Ibid., hal. 55.

[19] Ibnu Rusyd, Op. Cit., hal. 432-438. Ibnu Rusyd  merinci secara detail tentang pangkal silang pendapat ini disebabkan dua sebab. Pertama, ketidakjelasan akad nikah itu yang berfungsi sebagai sarana tukar menukar berdasarkan kerelaan menerima ganti, baik sedikit atau banyak seperti jual beli, dan fungsinya sebagai suatu ibadah, yang sudah ada ketentuannya. Ditinjau dari satu sisi, dengan maskawin, seorang laki-laki dapat memiliki “jasa” seorang wanita untuk selamanya, dengan demikian mirip dengan pertukaran. Disisi lain adanya larangan mengadakan persetujuan untuk meniadakan maskawin, maskawin itu mirip dengan ibadah. Kedua, adanya pertentangan antara qiyas yang menghendaki adanya pembatasan maskawin dengan pengertian hadits yang tidak menghendaki adanya pembatasan. Qiyas yang menghendaki adanya pembatasan adalah bahwa pernikahan itu ibadah, sedangkan ibadah itu sudah ada ketentuan-ketentuannya.

[20] Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H., Op. Cit., hal. 119.

[21] Ibid., hal. 120.

[22] Ibnu Rusyd, Op. Cit., hal. 442.

[23] Sayyid Sabiq, Op. Cit., hal. 65; Kompilasi Hukum Islam, Op.Cit.,hal.22.

[24] Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H., Op. Cit., hal. 58.

[25] Abdul Hamid Kisyik, Loc.Cit.

Peraturan Perundang-undangan

Undang-undang No.22 Tahun 1946 Tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk

Undang-undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

PMA No.30 Tahun 2005 Tentang Wali Hakim

PMA No11 Tahun 2007 Tentang Pencatatan Nikah

PMA No.13 Tahun 2012 Tentang Organisasi Tata Kerja Instansi Vertikal Kementerian Agama

Intruksi Menteri Agama No.01 Tahun 2012 Tentang Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani di Lingkungan Kementerian Agama

Angka Perkawinan di Bawah Umur Masih Tinggi

Selasa, 26 Februari 2013

Jakarta(Pinmas)—Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag) mengungkap bahwa perkawinan di bawah umur masih tinggi dan hal itu perlu disikapi dan ditindak lanjuti dengan serius.

Badan Litbang dan Dikat Kemenag mencatat bahwa perkawinan di bawah usia pada 2010-2012 di Kabupaten Indramayu sebanyak 825 perkawinan, Kabupaten Malang 474 perkawinan dan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebanya 44 perkawinan.

Sementara perkawinan yang tidak tercatat pada tahun yang sama, untuk provinsi NTB sebayak 4.511, Kabupaten Bangkalan 1.156 perkawinan, Indramayu (1.144), Malang (756), Tangerang (300) dan Cianjur (192).

Angka-angka tersebut terungkap ketika Badan Litbang dan Diklat Kemenag menggelar pemaparan Hasil Penelitian Bidang Kehidupan Beragama yang dihadiri Menteri Agama Suryadharma Ali, Plt Kabad Litbang dan Diklat Machasin, di Jakarta, Selasa (26/2). Hadir pula Sekjen Kemenag Bahrul Hayat, Dirjen Bimas Islam, Buddha, Hindu, Kristen, Katolik, Penyelenggara Haji dan Umroh.

Dalam paparannya yang dipimpin Plt Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. Machasin terungkap, permasalahan mengenai perkawinan dibawah umur, problematika yang dihadapi oleh pasangan kedua jenis perkawinan tersebut. Penyebab dan terjadinya perkawinan di bawah usia.

Diungkap bagaimana pula respon masyarakat, ulama dan pemerintah terhadap perkawinan di bawah umur dan perkawinan tidak tercatat. Lantas, apa pula yang dilakukan dalam menanggulangi terjadinya dua bentuk perkawinan tersebut di kalangan masyarakat.

Menurut peneliti dari Badan Litbang dan Diklat Kemenag, Prof. Abdurahman Masud, penelitian tersebut dilakukan di kabupaten Tangerang (Banten), Indramayu , Cianjur (Jabar), Brebes (Jateng), Yogyakarta, Bangkalan, Malang (Jatim), Lombok Tengah (NTB), dan Kabupaten Balangan (Kaltim).

Peneltian pada 2010-2012, katanya, dilakukan dengan metode kualitatif, sifat diskriftif. Pasangan perkawinan di bawah umur memaknai perkawinan sebagai pilihan terbaik untuk membantu orangtu, menghindari zina akibat bebasnya pergaulan, penyalahgunaan dari kemajuan teknologi.

Ditemukan pula, kata dia, pasangan perkawinan tidak tercatat memaknai perkawinan sebagai urusan agama dan cukup dinikahkan oleh kiyai atau ulama. Tidak perlu dicatatkan. Dalam penelitian itu pula ditemukan problem yang dirasakan bagi perkawinan di bawah umur adalah ketika melahirkan untuk pertama kalinya.

Sedangkan bagi pasangan nikah tidak tercatat, mempelai puteri sulit bersosialisasi karena dianggap isteri simpanan.

Penyebab

Masud dalam paparannya menyebut bahwa penyebab terjadinya pernikahan di bawah umur akibat rendahnya pendidikan, belum cukup umur sudah bekerja, mengurangi beban keluarga.

Penyebab lainnya, lanjut dia, terjadinya pernikahan tidak tercatat, beranggapan nikah sudah sah jika dilakukan oleh kiyai atau ulama. Tidak lengkapnya syarat administratif pasangan.

Dari kasus tersebut ditemui respon masyarakat, ulama dan pemerintah terhadap kedua bentuk pernikahan itu. Pernikahannya sah selama rukun dan syaratnya yang ditetapkan oleh agama terpenuhi. Kemudharatan yang diakibatkan kedua jenis perkawinan itu perlu diminimalisasi.

Hal lain, belum banyak upaya sistematis untuk meminimalisasi dua ajenis pernikahan tersebut. Penyuluhan agama belum banyak dilakukan.

Untuk itulah ia merekomendasikan agar ke depan pemerintah, tokoh agama meningkatkan perannya dalam memberikan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya perkawinan dicatatkan dan bahaya yang diakibatkan dari pernihakan di bawah umur.

Pemda, tokoh agama dan tokoh masyarakat perlu melakukan sosialisasi intensif kepada masyarakat, khsusunya orangtua, terkait upaya pentingnya pendidikan bagi anak usia sekolah. Kemenag, ia menegaskan, perlu kerja sama dengan pengadilan agama agar mengintensifkan program Isbat, antara lain dengan memperbanyak sidang isbat nikah keliling dan memperbanyak informasi dan sosialisasinya di masyarakat.(ant/ess)

Irjen M. Jasin Ingin Memperbaiki KUA

Jakarta (Pinmas)—Irjen Kementerian Agama M. Jasin menyatakan upaya perbaikan di Kantor Urusan Agama (KUA) merupakan bagian dari agenda besar untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih. Apalagi, Kemenag sudah mencanangkan program Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK).

“Bukan kita mau mengkoyak-koyak internal, kita mau memperbaiki,” kata M. Jasin dalam jumpa pers di kantornya di Jalan Fatmawati 33A, Cipete, Jakarta Selatan, Selasa (29/1).

Ia mengungkapkan, lembaga KUA sudah disurvei beberapa kali oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan selalu memperoleh nilai buruk. “KUA disurvei KPK sejak tahun 2007, dari tahun ke tahun hasilnya jelek, itu sejak saya di KPK. Maka sejak saya masuk (Kemenag) direspon,” jelasnya.

Irjen mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan delapan butir solusi untuk mengatasi masalah KUA. Diantaranya adalah, menggratiskan biaya pernikahan serta semua pencatatan nikah dilakukan di KUA dan di hari kerja.

Solusi lain yaitu, tarif nikah tidak dinaikkan atau tetap Rp 30.000 dan bagi penghulu uang melaksanakan tugas di luar kantor diberikan uang transport lokal dan jasa profesi sesuai dengan SBK apabila yang bersangkutan melakukan tugas khtubah nikah dan menjadi wali.

Irjen juga mengatakan, pihaknya berupaya membangun image Kementerian Agama sebagai kementerian yang bebas dari korupsi, profesional dalam bekerja serta memiliki kontribusi bagi pembangunan bangsa.

“Visi kami adalah menjadi pengendali dan penjamin mutu kinerja Kementerian Agama,” kata Jasin. Adapun jumlah pegawai Itjen Kemenag saat ini sebanyak 412 orang.

Dalam pemantauan satuan kerja (satker) di Kemenag, kata dia, dilakukan dengan elektronik monitoring, yang bisa dibuka hanya oleh Sekjen dan Irjen secara online. (ks)

Assalamu’alaikum wr. wb

Selamat datang di blog Kelompok Kerja Penghulu (Pokjahulu) Kementerian Agama Kabupaten Banyumas Propinsi Jawa Tengah. Semoga dengan media ini bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat dalam bidang perkawinan dan kepenghuluan.

Wassalam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.